Panitia Kompetisi Inovasi Drone Nasional 2025 mengumumkan 12 tim finalis yang akan bertarung memperebutkan gelar inovator drone terbaik Indonesia. Pengumuman yang disampaikan pada Kamis, 27 November 2025, menandai berakhirnya tahap seleksi ketat yang melibatkan puluhan proposal inovatif dari berbagai perguruan tinggi dan institusi riset di seluruh Nusantara.
Kompetisi ini menjadi ajang bergengsi bagi para peneliti, mahasiswa, dan innovator muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengembangkan teknologi drone yang applicable untuk kebutuhan nasional. Final akan digelar di Jakarta pada 16-18 Desember 2025, di mana para finalis akan mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan juri dan stakeholder industri pertahanan serta teknologi.
Tiga Kategori Kompetisi yang Beragam
KIDN 2025 membagi kompetisi ke dalam tiga kategori utama yang mencerminkan spektrum luas aplikasi teknologi drone. Setiap kategori dirancang untuk mendorong inovasi yang berbeda sesuai dengan tantangan dan kebutuhan spesifik industri drone Indonesia.
Kategori Inovasi Drone Teknologi Terbaru menjadi arena bagi para inovator yang mengembangkan breakthrough technology dalam sistem drone. Empat tim berhasil lolos ke tahap final dalam kategori ini, masing-masing membawa konsep yang unik dan menjanjikan.
Tim AZ-ZAWRA BIANTARA dari Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan Multi-Agent Hybrid VTOL Tricopter yang mengintegrasikan kemampuan avionic adaptif dengan artificial intelligence. Inovasi mereka fokus pada efisiensi pemetaan dan efektivitas pengintaian udara, sebuah kebutuhan krusial untuk berbagai aplikasi mulai dari pertahanan hingga disaster management.
EFRISA PENS dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya menghadirkan solusi Inovasi UAV Hybrid VTOL Tilting berbasis komponen lokal. Dengan menggunakan teknologi Ber-TKDN Tinggi, tim ini menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kemampuan manufaktur drone nasional dan mengurangi ketergantungan pada komponen impor.
GADJAH-URO dari Universitas Lampung mengembangkan SKYFLUX, sebuah Aerial Eddy Covariance System yang dirancang khusus untuk auditing karbon dan monitoring polusi udara berbasis drone. Di era di mana climate change menjadi isu global, teknologi seperti ini memiliki potensi besar baik untuk riset maupun aplikasi komersial.
SKYLINE dari Klub Inovasi Nusantara membawa Drone Inspeksi Cerdas Skyline-L490 yang dilengkapi dengan navigasi lidar presisi. Teknologi ini menjawab kebutuhan industri untuk inspeksi infrastruktur yang akurat dan aman, dari jaringan listrik hingga struktur bangunan tinggi.
Kategori Inovasi Drone Tepat Sasaran menguji kemampuan tim dalam mengembangkan sistem drone yang presisi, cerdas, dan efisien untuk berbagai misi spesifik. Empat finalis di kategori ini membawa pendekatan yang berbeda namun sama-sama menjanjikan.
AIRBORN dari Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan platform drone yang mengutamakan presisi, kecerdasan, dan efisiensi dalam satu paket terpadu. Pendekatan holistik mereka dalam desain menunjukkan pemahaman mendalam tentang trade-off yang sering dihadapi dalam engineering drone.
AMBALABU dari Institut Teknologi Bandung menghadirkan Antares-Vision, sebuah sistem yang mengintegrasikan flight controller kustom dengan deteksi YOLO untuk misi target presisi. Kombinasi hardware custom dan AI-based computer vision ini menunjukkan tren ke arah autonomous operation yang semakin sophisticated.
ANDALAS FLYING ROBOT GENERATION dari Universitas Andalas fokus pada drone tepat sasaran otonom berbasis multi-navigasi dengan komunikasi 4G untuk operasi jarak jelajah yang tidak terbatas. Penggunaan jaringan seluler untuk command and control membuka kemungkinan operasi BVLOS (Beyond Visual Line of Sight) yang selama ini menjadi tantangan regulasi dan teknis.
KAZERO UM dari Universitas Negeri Malang mengembangkan sistem yang menarik: Rancang Bangun Sistem Pemandu Visual (Vision Guidance) pada Drone Tepat Sasaran Berbasis CSRT Tracking. Teknologi tracking yang robust adalah kunci untuk berbagai aplikasi dari surveillance hingga automated delivery.
Kategori Inovasi Drone Dropping Cargo menjadi yang paling applicable untuk kebutuhan logistik dan humanitarian aid. Kemampuan drone untuk mengirimkan kargo dengan akurat ke lokasi yang sulit dijangkau bisa menjadi game-changer, terutama untuk Indonesia dengan geografis kepulauan yang menantang.
AEROTEKNINDO dari PT Aero Teknindo Nusantara membawa pengalaman industri dengan mengembangkan drone FPV untuk dropping cargo. Pendekatan mereka yang memanfaatkan platform FPV menunjukkan kreativitas dalam mengadaptasi teknologi yang awalnya untuk racing dan cinematography ke aplikasi praktis.
AL-MUBAROK dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengembangkan sistem dropping cargo otonom berbasis deteksi target AI Vision dan GPS. Kombinasi sensor visual dan positioning ini memastikan akurasi tinggi dalam menempatkan kargo bahkan di kondisi yang challenging.
ANDALAS FLYING ROBOT GENERATION kembali muncul di kategori ini dengan EAGLE CARGO: Autonomous Drone for Battlefield Support. Fokus mereka pada aplikasi militer menunjukkan pemahaman tentang kebutuhan spesifik operasi pertahanan yang menuntut reliability dan performance di kondisi ekstrem.
DEFENSE AIRLAB dari Universitas Pertahanan RI menghadirkan optimasi jangka terbang dan akurasi dropping payload aerodinamis dengan konsep inovatif Setengah Bola-Tabung pada hexacopter militer. Desain aerodinamis yang unik ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kapasitas angkut.
Technical Meeting Menjelang Final
Panitia mengumumkan bahwa 12 tim finalis diwajibkan mengikuti Technical Meeting (TM) secara daring pada 28 November 2025 pukul 09.00 WIB melalui aplikasi Zoom. Pertemuan ini krusial untuk memastikan semua tim memahami aturan kompetisi, format presentasi, dan kriteria penilaian yang akan digunakan di tahap final.
Technical Meeting juga menjadi kesempatan bagi tim untuk mengklarifikasi detail teknis, logistik selama kompetisi, dan berkonsultasi dengan panitia tentang persiapan yang perlu dilakukan. Link Zoom akan dibagikan pada kesempatan pertama untuk memastikan semua peserta bisa bergabung tanpa hambatan teknis.
Signifikansi KIDN 2025 untuk Ekosistem Drone Nasional
Kompetisi Inovasi Drone Nasional bukan sekadar ajang perlombaan biasa. Ini adalah platform strategis yang dirancang untuk mengakselerasi pengembangan teknologi drone dalam negeri dan membangun talent pool inovator yang siap berkontribusi pada industri pertahanan dan keamanan nasional.
Keberagaman institusi yang terwakili dalam daftar finalis, dari universitas negeri hingga swasta, dari institusi teknik hingga pertahanan, menunjukkan bahwa inovasi drone telah menjadi fokus riset yang luas di Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah yang terfasilitasi melalui kompetisi ini diharapkan bisa mempercepat transfer teknologi dari laboratorium ke aplikasi real-world.
Penekanan pada Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di beberapa proposal juga menunjukkan kesadaran akan pentingnya kemandirian teknologi. Di era di mana drone menjadi instrumen strategis baik untuk sipil maupun militer, kemampuan untuk memproduksi komponen kritis secara lokal adalah aspek kedaulatan yang tidak bisa diabaikan.
Menanti Pertarungan di Jakarta
Final yang akan digelar pada pertengahan Desember 2025 di Jakarta dinantikan akan menjadi showcase spektakuler dari kemampuan inovasi drone Indonesia. Para finalis tidak hanya akan mempresentasikan konsep mereka, tetapi juga diharapkan mendemonstrasikan working prototype yang telah melalui berbagai iterasi pengembangan dan testing.
Kompetisi ini juga akan menjadi ajang networking yang valuable bagi para peserta. Kehadiran stakeholder dari industri pertahanan, investor teknologi, dan perwakilan pemerintah bisa membuka peluang kolaborasi, funding, atau bahkan commercialization dari inovasi yang dipresentasikan.
Bagi komunitas drone Indonesia yang lebih luas, KIDN 2025 adalah barometer perkembangan teknologi drone nasional. Inovasi-inovasi yang muncul dari kompetisi ini sering kali menjadi tren yang diadopsi oleh industri dalam tahun-tahun berikutnya. Beberapa finalis tahun-tahun sebelumnya bahkan telah berhasil mengomersialkan produk mereka atau mendirikan startup di bidang drone technology.
Dengan 12 tim finalis yang membawa berbagai inovasi menarik, KIDN 2025 menjanjikan pertarungan sengit namun konstruktif yang akan mendorong boundaries dari apa yang mungkin dicapai dengan teknologi drone. Di langit Indonesia yang semakin ramai dengan drone, para inovator muda ini sedang menulis chapter baru dalam cerita perkembangan teknologi penerbangan tanpa awak nasional.

